Monday, April 30, 2012

Canki Sutta - Bagaimana menemukan kebenaran

CANKI SUTTA

Majjhima Nikaya, Brahmana Vagga, Bab 95


1. Demikian yang saya dengar.

Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berkelana di negeri Kosala dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di desa brahmana Kosala yang bernama Opasada.

Di sana Yang Terberkahi berdiam di Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sala di utara Opasada.

2. Pada saat itu, brahmana Canki sedang berkuasa di Opasada, pemilik harta-kerajaan yang melimpah dengan makhluk hidup, kaya dengan padang rumput, hutan, jalan air, dan biji-bijian, dana kerajaan, anugerah sacral dari Raja Pasenadi dari Kosala.

3. Para perumah-tangga brahmana dari Opasada mendengar:

“Petapa Gotama … (seperti Brahmayu Sutta, paragraf 3) …

Sungguh bagus menemui Arahat-Arahat seperti ini.”

4. Kemudian para perumah-tangga brahmana dari Opasada berangkat dari Opasada –berkelompok dan bergerombol- dan menuju ke utara ke Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sala.

5. Pada saat itu, brahmana Canki pergi ke lantai atas istananya untuk beristirahat siang.

Kemudian dia melihat para perumah-tangga dari Opasada sedang berangkat dari Opasada –berkelompok dan bergerombol- dan menuju ke utara ke Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sala.

Ketika melihat mereka, dia bertanya kepada menterinya:

“Menteriku, mengapa para perumah-tangga brahmana dari Opasada sedang berangkat dari Opasada –berkelompok dan bergerombol- dan menuju ke utara ke Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sala?”

6. “Tuan, ada petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keluarga Sakya, yang telah berkelana di negeri Kosala … (seperti Brahmayu Sutta, paragraf 3) …

Mereka pergi untuk menemui Guru Gotama.”

“Kalau demikian, menteri yang baik, temuilah para perumah-tangga brahmana dari Opasada dan katakan kepada mereka:

‘Tuan-tuan, brahmana Canki berkata demikian: ‘Tolong tunggu, tuan-tuan.

Brahmana Canki juga akan pergi menemui petapa Gotama.’”

“Ya, tuan,” jawab menteri itu.

Lalu dia pergi menemui para perumah-tangga brahmana di Opasada dan menyampaikan pesan itu kepada mereka.

7. Pada kesempatan itu, lima ratus brahmana dari berbagai negara bagian sedang tinggal di Opasada untuk berbagai urusan. Mereka mendengar:

“Brahmana Canki, dikatakan, akan menemui petapa Gotama.”

Maka mereka pergi menemui brahmana Canki dan bertanya kepadanya:

“Tuan, apakah benar bahwa engkau akan menemui petapa Gotama?”

“Memang demikian, tuan-tuan. Saya akan menemui petapa Gotama.”

8. “Tuan, jangan pergi menemui petapa Gotama.

Adalah tidak pantas, Tuan Canki, bila engkau pergi menemui petapa Gotama; alih-alih, adalah pantas bila petapa Gotama yang datang menemuimu.

Karena engkau, tuan, terlahir dengan keturunan murni yang baik dari dua pihak: pihak ibu maupun pihak ayah tujuh generasi ke belakang, tak-terbantahkan dan tak-tercela sehubungan dengan kelahiran.

Karena demikian itu, Tuan Canki, adalah tidak pantas bila engkau pergi menemui petapa Gotama; alih-alih, adalah pantas bila petapa Gotama yang datang menemuimu.

Engkau, tuan, sungguh kaya, memiliki kekayaan yang besar dan harta yang banyak.

Engkau tuan, adalah pakar Tiga Veda dengan kosakatanya, liturgy, fonologi, dan etimologi, serta sejarahnya sebagai yang kelima; ahli dalam filologi dan tata bahasa, engkau sangat ahli mengenai filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Besar.

Engkau, tuan, sungguh tampan, elok, dan anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa, dengan keelokan yang tinggi dan kehadiran yang agung, sungguh luar biasa untuk dipandang.

Engkau, tuan, sungguh luhur, matang dalam moralitas, memiliki moralitas yang matang, engkau, tuan, adalah pembicara yang baik dengan penyampaian yang baik; engkau menyampaikan kata-kata yang sopan, jelas, tanpa-cacat, dan dapat mengkomunikasikan maknanya.

Engkau, tuan, mengajar para guru orang banyak, dan engkau mengajarkan hafalan hymne kepada tiga ratus siswa brahmana.

Engkau, tuan, dihormati, dihargai, dipuji, dipandang tinggi, dan ditinggikan oleh Raja Pasenadi dari Kosala.

Engkau, tuan, dihormati, dihargai, dipuji, dipandang tinggi, dan ditinggikan oleh brahmana Pokkharasati.

Engkau, tuan, memerintah Opasada, pemilik harta-kerajaan yang melimpah dengan makhluk hidup … anugerah sacral dari Raja Pasenadi dari Kosala.

Karena demikian itu, Tuan Canki, adalah tidak pantas bila engkau pergi menemui petapa Gotama; alih-alih, adalah pantas bila petapa Gotama yang datang menemuimu.”

9. Ketika hal ini disampaikan, brahmana Canki memberitahu para brahmana tersebut:

“Tuan-tuan, dengarkan dari saya, mengapa pantas bila saya menemui Guru Gotama, dan mengapa tidak pantas bila Guru Gotama yang datang menemuiku.

Tuan-tuan, petapa Gotama terlahir dengan keturunan murni yang baik dari dua pihak: pihak ibu maupun pihak ayah tujuh generasi ke belakang, tak-terbantahkan dan tak-tercela sehubungan dengan kelahiran.

Karena demikian itu, tuan-tuan, adalah tidak pantas bila Guru Gotama yang datang menemuiku; alih-alih, adalah pantas bila saya yang pergi menemui petapa Gotama.

Tuan-tuan, Guru Gotama meninggalkan keduniawian dengan meninggalkan banyak emas dan batagg-emas yang disimpan di ruang besi dan tempat penyimpanan.

Tuan-tuan, petapa Gotama meninggalkan kehidupan berumah menuju tak-berumah ketika masih muda, pemuda berambut-hitam yang memiliki berkah kemudaan, di masa prima kehidupannya.

Tuan-tuan, petapa Gotama mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah menuju tak-berumah walaupun ibu dan ayahnya menginginkan sebaliknya dan mereka menangis dengan wajah berurai air-mata.

Tuan-tuan, petapa Gotama tampan, elok, dan anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa, dengan keelokan yang tinggi dan kehadiran yang agung, sungguh luar biasa untuk dipandang.

Tuan-tuan, petapa Gotama luhur, dengan moralitas agung, dengan moralitas bajik, memiliki moralitas bajik.

Tuan-tuan, petapa Gotama adalah pembicara yang baik dengan penyampaian yang baik; Beliau menggunakan kata-kata yang sopan, jelas, tidak cacat, dan mengkomunikasikan maknanya.

Tuan-tuan, petapa Gotama, adalah guru dari para guru orang banyak.

Tuan-tuan, petapa Gotama bebas dari nafsu indera dan tanpa kesombongan diri.

Tuan-tuan, petapa Gotama memegang doktrin tentang keampuhan moral dan tindakan, doktrin keampuhan moral perbuatan; Beliau tidak berusaha merugikan garis para brahmana.

Tuan-tuan, petapa Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga aristocrat, dari salah satu keluarga bangsawan asli.

Tuan-tuan, petapa Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga kaya, dari keluarga dengan kekayaan yang besar dan harta-milik yang besar.

Tuan-tuan, orang-orang datang dari berbagai kerajaan yang jauh dan wilayah yang terpencil untuk bertanya kepada petapa Gotama.

Tuan-tuan, beribu-ribu dewa telah pergi untuk perlindungan sepanjang hidup kepada petapa Gotama.

Tuan-tuan, berita yang baik tentang petapa Gotama telah menyebar demikian:

‘Yang Terberkahi telah mantap, sepenuhnya tercerahkan, sempurna dalam pengetahuan dari perilaku sejati, tinggi, pengenal semua alam, pemimpin yang tiada bandingnya untuk manusia-manusia yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, yang tercerahkan, terberkahi.’

Tuan-tuan, petapa Gotama memiliki tiga-puluh-dua-tanda Manusia Besar.

Tuan-tuan, Raja Seniya Bimbisara dari Magadha dan istri serta anak-anaknya telah pergi untuk berlindung sepanjang hidup kepada petapa Gotama.

Tuan-tuan, Raja Pasenadi dari Kosala dan istri serta anak-anaknya telah pergi untuk berlindung sepanjang hidup kepada petapa Gotama.

Tuan-tuan, brahmana Pokkharasati dan istri serta anak-anaknya telah pergi untuk berlindung sepanjang hidup kepada petapa Gotama.

Tuan-tuan, petapa Gotama telah tiba di Opasada dan sedang berdiam di Opasada di Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sala utara Opasada.

Petapa atau brahmana mana pun datang ke kota kita adalah tamu-tamu kita, dan tamu-tamu harus dihormati, dihargai, dipuji, dipandang tinggi, dan ditinggikan oleh kita.

Karena petapa Gotama telah tiba di Opasada, Beliau adalah tamu kita, dan sebagai tamu kita, Beliau harus dihormati, dihargai, dipuji, dipandang tinggi, dan ditinggikan oleh kita.

Karena demikian itu, tuan-tuan, adalah tidak pantas bila Guru Gotama yang datang menemuiku; alih-alih, adalah pantas bila saya yang pergi menemui petapa Gotama.

“Tuan-tuan, sejauh inilah pujian bagi Guru Gotama yang telah saya pelajari, tetapi pujian bagi Guru Gotama tidak terbatas pada itu saja, karena pujian bagi Guru Gotama sungguh tak-terukur.

Karena Guru Gotama memiliki masing-masing factor ini, tidaklah pantas bila Beliau datang menemui saya; alih-alih, adalah pantas bila saya pergi menemui Guru Gotama.

Maka, tuan-tuan, marilah kita semua pergi menemui petapa Gotama.”

10. Kemudian brahmana Canki –bersama sekelompok besar brahmana- pergi menemui Yang Terberkahi dan bertukar sapa dengan Beliau.

Setelah ramah tamah ini selesai, dia duduk di satu sisi.

11. Ketika itu Yang Terberkahi sedang duduk mengakhiri percakapan yang ramah dengan beberapa brahmana yang sangat senior.

Pada saat itu, di dalam perkumpulan itu ada seorang siswa brahmana bernama Kapathika.

Muda, gundul, berusia enambelas tahun, dia adalah pakar Tiga Veda dengan kosakatanya, liturgy, fonologi, dan etimologi, serta sejarahnya sebagai yang kelima; ahli dalam filologi dan tata bahasa, dia sangat ahli mengenai filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Besar.

Sementara para brahmana yang sangat senior itu sedang bercakap-cakap dengan Yang Terberkahi, dia sering menyela dan mengganggu percakapan mereka.

Kemudian Yang Terberkahi menegur keras siswa brahmana Kapathika demikian:

“Janganlah yang terhormat Bharadvaja menyela dan mengganggu percakapan para brahmana yang sangat senior sementara mereka sedang berbicara.

Biarlah yang terhormat Bharadvaja menunggu sampai percakapan telah berakhir.”

Ketika hal ini disampaikan, brahmana Canki berkata kepada Yang Terberkahi:

“Janganlah Guru Gotama menegur keras siswa brahmana Kapathika.

Siswa brahmana Kapathika adalah orang terhormat, beliau sangat terpelajar, beliau mempunyai penyampaian yang baik, beliau bijaksana, beliau mampu mengambil bagian dalam diskusi dengan Guru Gotama ini.”

12. Maka Yang Terberkahi berpikir:

“Tentunya, karena para brahmana menghormati dia demikian, siswa brahmana Kapathika pasti ahli dalam kitab-kitab Tiga Veda.”

Pada waktu itu, siswa brahmana Kapathika berpikir:

“Ketika petapa Gotama memandang mataku, aku akan mengajukan pertanyaan kepadanya.”

Maka, karena mengetahui dengan pikiran Beliau sendiri, buah-pikir di dalam pikiran siswa brahmana Kapathika, Yang Terberkahi mengarahkan pandangannya kepada dia. Siswa brahmana Kapathika berpikir:

“Petapa Gotama telah menoleh ke arahku. Sebaiknya aku mengajukan pertanyaan kepadanya.”

Kemudian dia berkata kepada Yang Terberkahi:

“Tuan Gotama, sehubungan dengan hymne-hymne brahmana kuno yang diturunkan melalui transmisi lisan dan koleksi-koleksi kitab, para brahmana sampai pada kesimpulan yang pasti:

‘Hanya ini yang benar, yang lainnya salah.’

Apa kata Guru Gotama tentang hal ini?”

13. “Bagaimana halnya, Bharadvaja, di antara para brahmana adakah bahkan satu brahmana pun yang berkata demikian:

‘Aku tahu ini, aku melihat ini: hal ini yang benar, yang lainnya salah’?”

“Tidak, Tuan Gotama.”

“Bagaimana halnya, Bharadvaja, di antara para brahmana, adakah bahkan satu guru pun atau satu guru dari guru itu, sampai guru generasi ketujuh sebelumnya, yang berkata demikian:

‘Aku tahu ini, aku melihat ini: hal ini yang benar, yang lainnya salah’?”

“Tidak, Tuan Gotama.”

“Bagaimana halnya, Bharadvaja, para brahmana peramal kuno, para pencipta hymne, para penggubah hymne, yang hymne-hymne kunonya dulu dilantunkan, diucapkan, dan disusun, yang sekarang ini para brahmana masih melantunkan dan mengulang, dengan mengulang apa yang dulu diucapkan dan menghafal apa yang dulu dihafal – yaitu, Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Angirasa, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa, dan Bhagu – bahkan para brahmana peramal kuno ini, apakah mereka berkata demikian:

‘Aku tahu ini, aku melihat ini: hal ini yang benar, yang lainnya salah’?”

“Tidak, Tuan Gotama.”

“Jadi, Bharadvaja, tampaknya di antara para brahmana tidak ada bahkan satu brahmana pun yang berkata demikian:

‘Aku tahu ini, aku melihat ini: hal ini yang benar, yang lainnya salah.’

Dan di antara brahmana tidak ada bahkan satu guru pun atau satu guru dari guru itu, sampai guru generasi ketujuh sebelumnya, yang berkata demikian:

‘Aku tahu ini, aku melihat ini: hal ini yang benar, yang lainnya salah.’

Dan para brahmana peramal kuno, para pencipta hymne, para penggubah hymne … bahkan para brahmana peramal kuno ini pun tidak berkata demikian:

‘Kami tahu ini, kami melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya salah.’

Seandainya ada barisan orang buta yang masing-masing bersentuhan dengan berikutnya: yang pertama tidak melihat, yang tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.

Demikian juga, Bharadvaja, sehubungan dengan pernyataan mereka, para brahmana tampak seperti barisan orang buta: yang pertama tidak melihat, yang tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.

Bagaimana pendapatmu, Bharadvaja, karena demikian itu, tidakkah keyakinan para brahmana ternyata tak-berdasar?”

14. “Para brahmana menghormati hal ini bukan hanya karena keyakinan, Tuan Gotama. Mereka juga menghomatinya sebagai tradisi lisan.”

“Bharadvaja, mulanya engkau bertahan dengan keyakinan, sekarang engkau berbicara tentang tradisi lisan.

Ada lima hal, Bharadvaja, yang bisa dihasikan dengan dua cara di sini dan kini.

Apakah yang lima itu?

Keyakinan, persetujuan, tradisi lisan, pemikiran yang dinalarkan, dan penerimaan reflektif tentang suatu pandangan.


Lima hal ini bisa dihasilkan dengan dua cara yang berbeda di sini dan kini.

Sesuatu mungkin sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun itu mungkin kosong, hampa, dan salah; sedangan sesuatu yang lain mungkin sepenuhnya tidak diterima karena keyakinan, namun itu mungkin nyata, benar, dan tidak salah.

Begitu pula, sesuatu mungkin sepenuhnya disetujui … mungkin dipikirkan dengan baik … mungkin telah direnungkan dengan baik, namun itu mungkin kosong, hampa, dan salah; sedangkan sesuatu yang lain mungkin tidak direnungkan dengan baik, tetapi itu mungkin nyata, benar, dan tidak-salah.


[Dengan kondisi-kondisi seperti ini] adalah tidak pantas bila seorang bijak yang melestarikan kebenaran, kemudian sampai pada kesimpulan yang pasti:


‘Hanya ini yang benar, yang lainnya salah.’”

15. “Tetapi, Tuan Gotama, dengan cara apakah ada pelestarian kebenaran?

Bagaimana orang melestarikan kebenaran?

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang pelestarian kebenaran.”

“Jika seseorang memiliki keyakinan, Bharadvaja, maka dia melestarikan kebenaran jika dia berkata:


‘Keyakinanku adalah demikian’;


tetapi dia belum sampai pada kesimpulan yang pasti:


‘Hanya ini yang benar, yang lain salah.’


Dengan cara ini, Bharadvaja, ada pelestarian kebenaran;


dengan cara ini dia melestarikan kebenaran;


dengan cara ini kami melestarikan kebenaran.


Tetapi sampai di sini belum ada penemuan kebenaran.

“Jika seseorang menyetujui sesuatu …


jika dia menerima tradisi lisan …


jika dia [mencapai kesimpulan berdasar atas] pemikiran yang dinalarkan …


jika dia memperoleh penerimaan reflektif tentang suatu pandangan,


maka dia melestarikan kebenaran jika dia berkata:


‘Penerimaan reflektifku tentang suatu pandangan adalah demikian’;


tetapi dia belum sampai pada kesimpulan pasti:


‘Hanya ini yang benar, yang lain salah.’


Dengan cara ini, Bharadvaja, ada pelestarian kebenaran;


dengan cara ini dia melestarikan kebenaran;


dengan cara ini kami menjelaskan pelestarian kebenaran.


Tetapi sampai di sini belum ada penemuan kebenaran.

16. “Dengan cara itu, Tuan Gotama, ada pelestarian kebenaran;

dengan cara itu seseorang melestarikan kebenaran;

dengan cara itu kami mengenali pelestarian kebenaran.

Tetapi dengan cara apa, Tuan Gotama, apa penemuan kebenaran?

Dengan cara apa maka seseorang menemukan kebenaran?

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang penemuan kebenaran.”

17. Di sini, Bharadvaja, seorang bhikkhu mungkin hidup bergantung pada suatu desa atau kota.

Kemudian seorang perumah-tangga atau putra perumah-tanggga mendatangi bhikkhu itu dan menyelidiki dia sehubungan dengan tiga jenis keadaan:

Berkenaan dengan keadaan-keadaan yang didasari keserakahan, berkenaan dengan keadaan-keadaan yang didasari kebencian, dan berkenaan dengan keadaan-keadaan yang didasari kebodohan batin.

‘Apakah pada yang mulia ini terdapat keadaan-keadaan yang didasari keserakahan semacam itu, sehingga dengan pikiran yang terobsesi keadaan-keadaan itu, walaupun tidak tahu dia mungkin berkata, “Aku tahu,” atau walaupun tidak melihat, dia mungkin berkata, “Aku melihat,” atau dia mungkin mendesak orang lain untuk bertindak dengan suatu cara yang bisa mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama?’

Ketika menyelidiki bhikkhu itu, dia pun menjadi tahu:

‘Tidak ada keadaan-keadaan yang didasari keserakahan semacam itu pada yang mulia ini.


Perilaku tubuh dan perilaku ucapan yang mulia ini bukanlah perilaku orang yang dipengaruhi keserakahan.


Dan Dhamma yang diajarkan oleh yang mulia ini sungguh dalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan tinggi, tak dapat dicapai dengan hanya penalaran, halus, harus dialami oleh para bijaksana.


Dhamma tidak bisa dengan mudah diajarkan oleh orang yang dipengaruhi keserakahan.

18. “Setelah dia menyelidiki bhikkhu tersebut dan melihat bahwa bhikkhu itu murni dari kondisi-kondisi yang didasari keserakahan, selanjutnya dia menyelidiki bhikkhu tersebut berkenaan dengan keadaan-keadaan yang didasari kebencian:


‘Apakah pada yang mulia ini ada keadaan-keadaan yang didasari kebencian semacam itu, sehingga dengan pikiran yang terobsesi keadaan-keadaan itu … dia mungkin mendesak orang lain untuk bertindak dengan suatu cara yang bisa mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama?


Ketika menyelidiki bhikkhu itu, dia pun menjadi tahu:


‘Tidak ada keadaan-keadaan yang didasari kebencian semacam itu pada yang mulia ini.


Perilaku tubuh dan perilaku ucapan yang mulia ini bukanlah perilaku orang yang dipengaruhi kebencian.


Dan Dhamma yang diajarkan oleh yang mulia ini sungguh dalam … harus dialami oleh para bijaksana.


Dhamma tidak bisa dengan mudah diajarkan oleh orang yang dipengaruhi kebencian.

19. “Setelah dia menyeleidiki bhikkhu tersebut dan melihat bahwa bhikkhu itu murni dari kondisi-kondisi yang didasari kebencian, selanjutnya dia menyelidiki bhikkhu tersebut berkenaan dengan keadaan-keadaan yang didasari kebodohan batin:


‘Apakah pada yang mulia ini ada keadaan-keadaan yang didasari kebodohan batin semacam itu, sehingga dengan pikiran yang terobsesi keadaan-keadaan itu … dia mungkin mendesak orang lain untuk bertindak dengan suatu cara yang bisa mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama?’


Ketika menyelidiki bhikkhu itu, dia pun menjadi tahu:


‘Tidak ada keadaan-keadaan yang didasari kebodohan batin semacam itu pada yang mulia ini.


Perilaku tubuh dan perilaku ucapan yang mulia ini bukanlah perilaku orang yang dipengaruhi kebodohan batin.


Dan Dhamma yang diajarkan oleh yang mulia ini sungguh dalam … harus dialami oleh para bijaksana. Dhamma tidak bisa dengan mudah diajarkan oleh orang yang dipengaruhi kebodohan batin.’

20. Setelah dia menyeleidiki bhikkhu tersebut dan melihat bahwa bhikkhu itu murni dari kondisi-kondisi yang didasari kebodohan batin, kemudian dia menaruh keyakinan pada dirinya; dipenuhi dengan keyakinan dia pun berkunjung pada bhikkhu tersebut dan menghormat beliau; setelah menghormat, dia pun membuka telinga; ketika dia membuka telinga, dia pun mendengar Dhamma; setelah mendengar Dhamma, dia pun mengingatnya dan memeriksa arti dari ajaran-ajaran yang telah dia ingat; ketika dia memeriksa artinya, dia pun memperoleh penerimaan reflektif dari ajaran-ajaran itu; setelah dia memperoleh penerimaan reflektif dari ajaran-ajaran itu, semangat pun muncul;
setelah semangat muncul, dia pun menerapkan kemauannya; setelah menerapkan kemauannya, dia pun mencermati; setelah mencermati, dia pun berjuang; setelah berjuang dengan mantap dia mewujudkan melalui tubuhnya kebenaran tertinggi dan melihatnya dengan cara menembusnya dengan kebijaksanaan.


Dengan cara ini, Bharadvaja, ada penemuan kebenaran; dengan cara ini orang menemukan kebenaran; dengan cara ini kami menerangkan penemuan kebenaran.


Tetapi sejauh ini masih belum ada pencapaian akhir pada kebenaran.

21. “Dengan cara itu, Tuan Gotama, ada penemuan kebenaran; dengan cara itu orang menemukan kebenaran; dengan cara itu kami mengenali penemuan kebenaran.

Tetapi, Tuan Gotama, apakah ada pencapaian akhir pada kebenaran?

Dengan cara apakah orang akhirnya sampai pada kebenaran?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang pencapaian akhir pada kebenaran.”

Pencapaian akhir pada kebenaran, Bharadvaja, terletak pada pengulangan, pengembangan, dan pengolahan hal-hal yang sama itu.


Dengan cara ini, Bharadvaja, apa pencapaian akhir pada kebenaran; dengan cara ini, orang akhirnya tiba pada kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan pencapaian akhir pada kebenaran.

22. “Dengan cara itu, Tuan Gotama, apa pencapaian akhir pada kebenaran; dengan cara itu orang akhirnya sampai pada kebenaran, dengan cara itu kami mengenali pencapaian akhir pada kebenaran.

Tetapi, apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang pencapaian akhir pada kebenaran.”

“Perjuangan adalah yang paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran, Bharadvaja.


Jika orang tidak berjuang, dia akhirnya tidak akan sampai pada kebenaran; tetapi karena dia berjuang, dia akhirnya pun sampai pada kebenaran.

Itulah sebabnya perjuangan adalah yang paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran.

23. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk perjuangan?

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang hal yang paling membantu untuk perjuangan.”

“Pengamatan yang cermat adalah yang paling membantu untuk perjuangan, Bharadvaja.


Jika orang tidak mengamati dengan cermat, dia tidak akan berjuang; tetapi karena dia mengamati dengan cermat, dia pun berjuang.


Itulah sebabnya pengamatan yang cermat adalah yang paling membantu untuk perjuangan.

24. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk pengamatan yang cermat?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk pengamatan yang cermat.”

“Penerapan kemauan adalah yang paling membantu untuk pengamatan yang cermat, Bharadvaja.


Jika orang tidak menerapkan kemauannya, dia tidak akan mengamati dengan cermat; tetapi karena dia menerapkan kemauannya, dia pun mengamati dengan cermat.


Itulah sebabnya penerapan kemauan adalah yang paling membantu untuk pengamatan yang cermat.

25. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk penerapan kemauan?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk penerapan kemauan.”

“Semangat adalah yang paling membantu untuk penerapan kemauan, Bharadvaja. Jika orang tidak menggugah semangat, dia tidak akan menerapkan kemauannya; tetapi karena ia menggugah semangat, dia pun menerapkan kemauannya. Itulah sebabnya semangat adalah yang paling membantu untuk penerapan kemauan.”

26. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk semangat?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk semangat.”

“Penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran adalah yang paling membantu untuk semangat, Bharadvaja.


Jika orang tidak memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran, semangat tidak akan muncul; tetapi karena dia memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran, semangat pun muncul.


Itulah sebabnya penerimaan tentang ajaran-ajaran adalah yang paling membantu untuk semangat.


27. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk penerimaan refletif tentang ajaran-ajaran?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran.”

“Pemeriksaan arti adalah yang paling membantu untuk penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran, Bharadvaja. Jika orang tidak memeriksa artinya, dia tidak akan memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran; tetapi karena orang memeriksa artinya, dia pun memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran.


Itulah sebabnya pemeriksaan arti adalah yang paling membantu untuk penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran.


28. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk pemeriksaan arti?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk pemeriksaan arti.”

“Mengingat ajaran adalah yang paling membantu untuk pemeriksaan arti, Bharadvaja.


Jika orang tidak mengingat ajaran, dia tidak akan memeriksa artinya; tetapi karena orang mengingat ajaran, dia pun memeriksa artinya.”

29. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk mengingat ajaran?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk mengingat ajaran.”

“Mendengar Dhamma adalah yang paling membantu untuk mengingat ajaran, Bharadvaja.


Jika orang tidak mendengar Dhamma, dia tidak akan mengingat ajaran; tetapi karena orang mendengar Dhamma dia pun mengingat ajaran.


Itulah sebabnya mendengar Dhamma adalah yang paling membantu untuk mengingat ajaran.

30. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk mendengar Dhamma?


Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk mendengar Dhamma.”


“Membuka telinga adalah yang paling membantu untuk mendengar Dhamma, Bharadvaja.


Jika orang tidak membuka telinga, dia tidak akan mendengar Dhamma; tetapi karena dia membuka telinga, dia pun mendengar Dhamma.


Itulah sebabnya membuka telinga adalah yang paling membantu untuk mendengar Dhamma.

31. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk membuka telinga?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk membuka telinga.”

“Menghormat adalah yang paling membantu untuk membuka telinga, Bharadvaja.


Jika orang tidak menghormat, dia tidak akan membuka telinga; tetapi karena dia menghormat, dia pun membuka telinga.


Itulah sebabnya menghormat adalah yang paling membantu untuk membuka telinga.


32. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk menghormat?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk menghormat.”

“Mengunjungi adalah yang paling membantu untuk menghormat, Bharadvaja.


Jika orang tidak mengunjungi [seorang guru], dia tidak akan menghormat guru; tetapi karena dia mengunjungi [seorang guru], dia menghormat guru itu.


Itulah sebabnya mengunjungi adalah yang paling membantu untuk menghormat.

33. “Tetapi apa, Tuan Gotama, yang paling membantu untuk mengunjungi?

Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu untuk mengunjungi.”

“Keyakinan adalah yang paling membantu untuk mengunjungi, Bharadvaja.


Jika keyakinan [pada seorang guru] tidak muncul, orang tidak akan mengunjunginya; tetapi karena keyakinan [pada seorang guru] muncul, dia pun mengunjunginya.


Itulah sebabnya keyakinan adalah yang paling membantu untuk mengunjungi.

34. “Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang pelestarian kebenaran, dan Tuan Gotama menjawab pelestarian kebenaran; kami setuju dan menerima jawabannya, dan dengan demikian kami puas.

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang penemuan kebenaran, dan Tuan Gotama menjawab tentang penemuan kebenaran; kami setuju dan menerima jawabannya, dan dengan demikian kami puas.

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang pencapaian akhir pada kebenaran, dan Tuan Gotama menjawab tentang pencapaian akhir di kebenaran; kami setuju dan menerima jawabannya, dan dengan demikian kami puas.

Kami bertanya kepada Tuan Gotama tentang hal yang paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran, dan Tuan Gotama menjawab tentang hal yang paling membantu untuk pencapaian akhir di kebenaran; kami setuju dan menerima jawabannya, dan dengan demikian kami puas.

Apa pun yang kami tanyakan kepada Tuan Gotama, Beliau sudah menjawab untuk kami; kami setuju dan menerima jawabannya, dan dengan demikian kami pun puas.

Dahulu Tuan Gotama, kami berpikir:

Siapakah petapa-petapa gundul ini, keturunan rendah berkulit hitam dari kaki sanak-saudara, sehingga mereka bisa memahami Dhamma?’

Tetapi Tuan Gotama benar-benar telah memberikan kepada saya inspirasi tentang kasih-sayang untuk para petapa, keyakinan pada petapa, penghormatan pada petapa.

35. “Luar biasa, Guru Gotama!

Luar biasa, Guru Gotama! … (seperti Brahmayu Sutta, Paragraf 37) …

Sejak hari ini, biarlah Guru Gotama mengingat saya sebagai pengikut awam yang telah pergi kepada Beliau untuk perlindungan sepanjang hidup.”